Tampilkan postingan dengan label Fiksi belaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi belaka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

Accidently in Love


Siang itu adalah pertemuan pertamaku dengan pria aneh keras kepala itu. Saat itu mungkin karena mengantuk dan suasana taman apartemen yang mendukung untuk tidur siang, aku jatuh tertidur. Bodohnya saat aku terbangun, aku menyadari aku tertidur dengan kepalaku berada di pangkuan seseorang yang tak ku kenal. Dengan sangat malu aku pun minta maaf dan buru-buru hendak beranjak dari taman itu. Astagaaaah... Malunyaaaa...
“Ah… Maaf... Sa saya jatuh tertidur tadi. Mohon maaf… Lebih baik saya pergi saja dan tidur di kamar… Sekali lagi maaf… Permisi…” dengan canggung dan pipi memerah aku berniat kabur dari situ.
“Tunggu sebentar,” pria tinggi kurus itu mencegahku pergi dengan menarik tanganku, “Siapa namamu?” Dari matanya aku merasakan aura dingin pembunuh.

Senin, 13 Oktober 2014

Once Upon a Time

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda sebatang kara di tepi hutan. Ia pemuda yg biasa saja, kecuali semangat membaranya. Ia meyakini bahwa semua mimpi pasti bisa terwujud kalau ia mau berusaha. Maka setiap bangun tidur ia mendaftar apa saja yg ia mimpikan semalam tadi. Kini sudah ratusan jumlahnya, dan yg luar biasa hampir semua dapat ia wujudkan. Bahkan mimpi absurdnya mengenai memelihara singa pun menjadi nyata. Hanya satu jenis mimpi yg membuatnya frustasi: kembali ke masa lalu.

Beo penyanyi menyadari mengapa setiap melihat daftar mimpi, sang pemuda menjadi sedikit murung meski hanya sesaat.

Senin, 27 Januari 2014

Beras untukku, beras untukmu

Sebuah cerita bijak Korea, disadur dengan sedikit perubahan.
Dahulu kala di suatu desa hiduplah kakak-beradik yang baik hati. Mereka selalu akrab, giat bekerja, dan saling menyayangi satu sama lain. Singkat cerita, mereka menjadi petani yang paling bagus hasil panennya di desa itu.
Suatu hari ketika panen, sang kakak berpikir untuk memberikan sekarung beras kepada adiknya. “Adikku pasti butuh biaya banyak untuk pernikahannya bulan depan. Kalau aku beri secara terang-terangan dia pasti menolak, maka aku selundupkan saja satu karung ke gudangnya. Pasti tidak kentara.” Jadilah malam itu sang kakak mengendap-endap ke gudang sang adik untuk memberikan sekarung beras.
Happy Cat Kaoani