Tampilkan postingan dengan label sedikit mikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedikit mikir. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

KPK harus Kuat

Siang all~~~ Jadi ceritanya saya sedang (tumben) iseng buka fb, dan di salah satu fanpage favorit saya, ia menuliskan post yang sangat amat saya setujui. hahaha..

"Partai yang getol sekali ingin merevisi UU KPK itu justeru yang sekarang berkuasa. Ada apa sih? Kalian mengotot sekali? Elit partai, anggota DPR, pejabat pemerintah dari partai ini, terlihat sekali syahwatnya hendak merevisi UU KPK.
Rakyat itu tidak bodoh loh pak. Kalian bilang untuk penguatan KPK, tapi fakta seluruh pasal usulan kalian itu kusut.
Kalau mau revisi, nih usulan saya:
1. KPK berhak penuh mengangkat penyelidik dan penyidik independen
2. Hukuman koruptor adalah minimal 100 tahun (hukuman mati lebih bagus lagi), seluruh hartanya disita tanpa ampun, termasuk anak-istri, sekali ada aliran harta korup, disita habis2an.
3. KPK mengambil komando seluruh kasus korupsi. Kepolisian, Kejaksaan bersifat support.
4. Kewenangan menyadap KPK diperluas tanpa batas.
5. Pemberian anggaran raksasa bagi KPK
Rakyat banyak, Pak, Bu, nggak pernah takut kalaupun KPK itu jadi super-super body. Ngapain takut? Yang takut KPK itu jadi "terlalu kuat" cuma orang2 yang korup saja.

*Tere Liye"

Kamis, 22 Januari 2015

Pertanyaan yg biasa ditanya calon (auditor) hehehe

Welcome all~~~
Bu auditor kini kembali hadir di tengah hiruk pikuk audit akhir tahun.. *tsaah *gaya beud hahaha… Mumpung ini lagi nunggu data-data klien, aku sempatkan untuk nge-post tentang awal mula dunia per-audit-an, semoga bermanfaat. Hehe. 
Akhir-akhir ini lumayan banyak yg nge-email aku, rata-rata nanya dan minta saran karena mereka lagi apply di KAP. Berhubung kalo akhir tahun gini adalah musimnya kami banting tulang (kadang banting data juga haha), jadi mohon maaf kalo ada yg tak terbalas maupun yg telat kujawab. Untuk meminimalisrnya, aku buat deh pertanyaan-pertanyaan yg biasanya diajukan para calon auditor muda berbakat Indonesia. (ihiiir). Stay tune, here they are..

Senin, 27 Januari 2014

Beras untukku, beras untukmu

Sebuah cerita bijak Korea, disadur dengan sedikit perubahan.
Dahulu kala di suatu desa hiduplah kakak-beradik yang baik hati. Mereka selalu akrab, giat bekerja, dan saling menyayangi satu sama lain. Singkat cerita, mereka menjadi petani yang paling bagus hasil panennya di desa itu.
Suatu hari ketika panen, sang kakak berpikir untuk memberikan sekarung beras kepada adiknya. “Adikku pasti butuh biaya banyak untuk pernikahannya bulan depan. Kalau aku beri secara terang-terangan dia pasti menolak, maka aku selundupkan saja satu karung ke gudangnya. Pasti tidak kentara.” Jadilah malam itu sang kakak mengendap-endap ke gudang sang adik untuk memberikan sekarung beras.

Minggu, 16 Desember 2012

Persepsi terhadap kata "Istirahat"

Saya hanya sedang sedikit berfikir mengenai satu hal yang cukup membuat saya penasaran: istirahat. Menurut kalian, apa itu istirahat?
Menurut saya istirahat itu proses melepaskan semua beban tubuh dan pikiran dengan hal yang kita sukai. Ada yang senang beristirahat di kala week-end dengan berjalan-jalan mengitari kota. Ada yang istirahat dengan pergi berenang. Ada yang main musik atau main game seharian. Ada juga nih yang kadar istirahatnya begitu berat (menurut saya sih): mendaki gunung - menyelam lautan. Aneh. Menurut saya itu aneh, karena pada hakikatnya istirahat itu dimaksudkan untuk melepas lelah, kenapa malah mencari lelah? Yaah, mungkin saja karena setelah merasa terpuaskan dengan aktivitas favorit (yang melelahkan itu) maka ia akan segera merasa pulih dan tidak lelah. Aneh kan? Berlelah-lelah untuk mengusir lelah. Atau mungkin jalan pikiran saya yang aneh.
Kalau dalam persepsi saya, istirahat itu menyeluruh: pikiran, emosi, dan tubuh. Tidur seharian. (Gak mungkin juga sih). Mendengarkan musik atau hal menenangkan lain. Membaca buku atau hal menarik lainnya. Diam dirumah atau dimanapun yang tenang. Berjam-jam tidak terusik, (kecuali untuk shalat tentunya). Ini adalah tipe istirahat idaman saya. Bukan berlari-larian mengejar ombak. Yaaah mungkin itu juga seru, udah pasti menyenangkan, tapi itu tidak "mengistirahatkan" saya. Diam, tenang, pasif. Mungkin ini yang menyebabkan saya begitu akrab dengan buku, perpustakaan, dan sejenisnya.
Persepsi orang memang berbeda-beda yaa ternyata. Bahkan untuk hal sekecil ini. Yaaa, asalkan istirahatnya tidak mengganggu istirahat orang lain.. Hehehe...
Selamat beristirahat... :)

Sabtu, 06 Oktober 2012

galau berjenjang

Saat ini aku lagi galau mikirin mau kerja dimana. Di kalimantan kah? Di Jakarta kah? Di Jawa kah? Pekerjaan seperti apa? Mau yang bagai mana? Kapan? Atau perlukah ambil S2? Atau memungkinkan kah mendaftar jadi PNS? Yaaah.. Semacam itu lah..
Setelah di pikir-pikir lagi, ternyata manusia itu selalu galau ya? Dikit-dikit digalau-in.

Jumat, 22 Juni 2012

menjadi dewasa

menjadi dewasa,, mungkin klo masih anak-anak kita bakal bayangin betapa serunya jadi orang dewasa. bebas kemana-mana. bebas mau ngapa-ngapain.
menjadi dewasa, sulitkah? beratkah? menyenangkan kah?
ada embel-embel 'tanggung jawab' di setiap perbuatanmu
ada embel-embel 'pertimbangan' di setiap keputusanmu
ada embel-embel 'konsekuensi' di setiap langkahmu
dan masih banyak embel-embel lain yang 'berat' dan 'capek'
bahkan tidak sedikit para dewasa yang mengaku ingin menjadi anak kecil lagi
terakhir aku mengingat umur, masih 18 tahun,,, dan sekarang udah kepala dua.
terkadang dengan bergidik aku menerawang,
kita akan menjadi dewasa tanpa kita sadari...
cukup dewasa kah aku...?
bolehkah aku tetap jadi anak-anak saja...
aku janji aku akan jadi anak baik yang bijak...
aku gak mau jadi orang dewasa yang dahinya berkerut2 memikirkan yang belum terjadi....
aku gak mau jadi orang dewasa yang sedikit2 mengeluh, stress lalu marah2..
aku mau jadi anak-anak saja.. boleh kah...? bisa kah...?

Sabtu, 15 Oktober 2011

kerja

Kerja. Suatu kata yang membawa rasa berat. Waktu masih kecil, setiap bapak pulang kerja pasti minta dipijitin oleh anak-anaknya. Kerja itu capek. Waktu mulai sedikit besar, mulai mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita harus kerja. Waktu kakakku lulus kuliah, 'belum dapat kerja' adalah hal yang cukup membebani pikiran. dan 'diterima kerja' layaknya impian yang harus terwujud mengingat bahwa mungkin itulah tujuan capek-capek sekolah. Saat kuliah, terpampang dengan jelas betapa banyak jenis 'kerja' yang bisa dilakukan. Tak hanya menjadi 'pekerja', menjadi pengusaha juga 'pekerjaan' yang tak mudah.
Sesaat sebelum masuk 'kerja' (baca: magang), saya juga merasakan nerveous. Apalagi saat melihat ke kanan kiri semua teman sudah 'duduk' di kursi kerja mereka. Setelah mendapat kerja, nerveous masih ada. Bagaimana kalau bosnya galak (ternyata memang bos harus galak). Bagaimana kalau rekan kerja nanti cuek. Bagaimana kalau saya terkesan bodoh di hari pertama. Bagaimana bagaimana dan bagaimana adalah pertanyaan yang berulang-ulang diputar di kepalaku layaknya kaset rusak. Saat sudah mulai masuk pertengahan masa kerja, rasa 'excited' saya agaknya sedikit padam dengan kecewa. Betapa banyak orang di dunia kerja yang tidak menikmati pekerjaannya. Entah pengaruh lingkungan, diri sendiri, atau terikat dengan kata 'terlanjur'.
Lantas saya berpikir, sudah senangkah aku bekerja? Bagaimana masa depan pekerjaan yang saya impikan? Hmmm. Impian saya adalah tetap menjadi auditor selama masih single. Jadi guru matematika seandainya dulu saya ambil Jurusan Matematika. Mungkin juga jadi penulis kalau sudah punya anak. Jadi pengusaha rumahan juga applicable for me. Hmmm, yang pasti harus jadi istri dan bunda yang baik nantinya (amin^^), dan tetap jadi anak yang berbakti (amin), jadi adik yang baik (amin), jadi kakak yang baik (amin), jadi orang yang baik lah pokoknya... :)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Permainan (?)

Berkelana di dunia maya (lagi), kali ini dengan topik permainan catur. Ternyata banyak yang menyangkutkan permainan catur dengan kepemimpinan.

Menurutku, setiap orang adalah raja bagi ‘papan hitam putih’ kehidupannya. Ada beberapa raja yang senang untuk menghabisi lawan sebanyak mungkin untuk memenangkan permainan. Ini namanya kekanak-kanakan. Semakin banyak yang ia makan, maka ia akan semakin senang, tak peduli bahwa sebenarnya ia juga banyak kehilangan ‘punggawa kerajaan’. Sedangkan raja yang bijak, ia mengetahui sepenuhnya betapa berarti seluruh komponen ‘kerajaan’ yang ia miiliki, pion sekalipun tak kan ia korbankan sia-sia. Ia akan mencoba menyerang langsung raja lawan, tanpa menjatuhkan banyak korban. Permainan seperti ini tentu membuat yang menonton berdecak kagum. Yaa, ia bisa menaklukkan lawan sekaligus melindungi ‘pasukan’nya, hebat bukan?
Happy Cat Kaoani